Penghargaan Profesional Melalui Sertifikasi guru

29 Jan 2011

Guru Harus menjadi Panutan

Guru Harus menjadi Panutan

Penghargaan profesionalitas seorang guru atau dosen dapat diberikan sertifikat untuk mengukur profesionalitasnya sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang Sisdiknas No 20 Tahun 2003 Pasal 61 ayat 3 Sertifikat kompetensi diberikan oleh penyelenggara pendidikan dan lembaga pelatihan kepada peserta didik dan warga masyarakat sebagai pengakuan terhadap kompetensi untuk melakukan pekerjaan tertentu setelah lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang terakreditasi atau lembaga sertifikasi.
Untuk mengukur kompetensi guru tersebut maka dijabarkanlah dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen pada pasal 10 Kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.

Dari beberapa kompetensi tersebur tentunya tidak serta merta diberikan sebelum diadakan uji kelayakan dan uji kelakayakan itu diberikan sepenuhnya kepada penyelenggara sertifikasi. Penyelenggara ini yang mengusulkan kelayakan untuk mendapatkan sertifikasi tersebut. Dari rentetan perjalanan yang begitu panjang wajarlah jika banyak yang gugur mendapatkan sertifikasi tersebut.

Namun yang mengherankan bagi sebagian besar guru yang telah mendapatkan sertifikasi tersebut semestinya profesionalitasnya itu diharapkan mampu mengembangkan dan meningkatkan mutu pendidikan, seakan berubah menjadi tidak produktif lagi karena menganggap dirinya telah mencapai target.

Bersikap acu tak acuh pada pengembangan keilmuannya, sementara sertifikasi diberikan sebagai tunjangan yang diberikan untuk pengembangan dan penerapan keilmuannya.

Siapa yang tidak tergiur ketika kita membincang persoalan ekonomi? Meski tidak semua, tetapi sebagian besar menyandarkan hidupnya pada spirit tersebut demi alasan kesejahteraan dan atas penghargaan.

Sertifikasi guru merupakan penghargaan yang diberikan kepada guru dalam bentuk finansial yang dilipatgandakan dari gaji pokoknya. Spirit inilah yang menjadi spirit utama mendapatkan sertifikasi.

Ketika spirit ini dijalankan dan dilakonkan oleh guru maka sertifikasi telah kehilangan ruh sebagai pengembangan ilmu dan profesionalitas. Jadi dalam proses pencapaian mendapatkan sertifikasi tersebut bukan didasarkan dari ketulusan untuk mengembangkan diri baik dalam nilai-nilai intelektual, emosionalitas, maupun spiritualitas.

Inilah salah satu tujuan pendidikan yang termuat dalam amanah UUD45 pasal 31 menyatakan “Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan tekhnologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.”

Demi mendapatkan sertifikasi nilai-nilai luhur sebagai manusia tentang kejujuran dan keadilan kadang diabaikan hal ini. Terbukti ketika menyusun prosedur-prosedur prasyarat mendapatkan sertifikasi telah banyak kebohongan-kebohongan yang dilakukan.

Semisal, mencantumkan sertifikat yang sebenarnya ia sendiri tidak mengetahui isi materi dari tema sertifikat yang diberikan dari pelatihan atau seminar dan workshop yang diikutinya itu. Pada hal lain LPMP (Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan) sebagai salah satu penyelenggara pelatihan kadang tidak mencapai target keilmuan yang diharapkan dari pelatihan-pelatihan yang diselenggarakannya sehingga peserta yang mengikuti pelatihan-pelatihan tersebut seolah hanya mengikuti prosedural saja tanpa mencapai hasil yang maksimal.

Dari uraian di atas diharapkan agar drive atau motif untuk mendapatkan sertifikasi guru dikembalikan pada nilai luhurnya, bukan atas alasan kesejahteraan ekonomi semata. Akan tetapi dikembalikan pada ruh utamanya sebagai seorang yang profesional di bidangnya dan mengembangkan serta menerapkannya demi kemajuan pendidikan di negeri yang kita cintai ini.

Penulis teringat pada negeri Jepang yang kemerdekaannya setahun setelah kemerdekaan bangsa Indonesia, pasca kemerdekaan Indonesia yang dikembangkan adalah konsep pembangunan sementara Jepang pada pasca kemerdekaannya hal pertama yang dicari oleh pemerintahannya adalah mendata guru yang masih hidup.

Itu artinya mereka menata kembali negaranya melalui pendidikan. Lihatlah perbadingannya sekarang, ketertinggalan kita terhadap negara matahari terbit tersebut.

Matahari membakar kita dengan pengetahuan lalu biarkan awan menampung air yang membuatnya hujan ketercerahan bersama pelangi indah masuk dalam sukma kebahagiaan.


TAGS Sertifikasi Guru


-

Author

Follow Me